Archive for March, 2008

Bongkahan Es yang mencair trus…waduh..

A

Bongkahan Es yang mencair trus…waduh..

A

buat nama sendiri dengan AMBIGRAM

A

Hujan Es

Hujan Es

Kemarin siang sekitar jam 13.30, Ambu lagi cuci piring (lirik Herda, nggak kok, nggak balap cuci piring karena nggak ditungguin SV :P) tiba-tiba hujan. Memang udah mendung sih sebelumnya, tapi hujannya tiba-tiba deras gitu.


Trus, Abah teriak, 'hujan es! hujan es!'


Ah, hujan es sih biasa. Cuek aja beresin cuci piring.


Tapi ... setelah 15 menit, itu suara pletak-pletok di atas genting terus aja bunyi. Karena cuci piring udah selesai, jadi aja keluar.


Masya Allah, itu es terus-terusan. Diitung kali aja setengah jam. Kasian taneman yang berdaun lebat, sampai bolong-bolong gitu. Daun sirih ... sampai udara berbau sirih.


Dan ... Ambu ambil gambar sebagian. Jadi, serasa di Eropa
*lirik Jo*
*betot Herda yang masih di Ciwalk waktu itu, liatin tumpukan es di belakang rumah:






Baru sedikit. Kelihatan nggak, jatuhan-jatuhan es-nya?





Tumpukan es di pojokan. Setelah hujannya selesai, Diva dan Daffa ngambil beberapa di atas piring (mau dikasih es kali ya, dibikin es campur) dan ternyata es-es itu sudah kena cat tembok. Tembok seperti yang kena lemparan yang kuat gitu...



Di antara bebatuan...




Kontras gitu ya? Hijau dan putih...





Ini yang di depan rumah




Masih di depan rumah ..


Kemudian Abah masuk kamar mandi, dan begitu kena airnya langsung 'brrrr' Ternyata air di kamar mandi yang langsung dari keran, jadi dingiiiin sekali! Mungkin karena airnya dari torn, dan torn-nya kena hujan es selama sekitar setengah jam ya?
Dari koran hari ini:
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandung Hendri Subakti menyebutkan, fenomena hujan es ini merupakan bagian dari masa pancaroba menuju musim kemarau, yang terjadi sejak Maret. "Masa ini ditandai dengan beberapa fenomena alam yang tidak biasa atau ekstrem, seperti angin puting beliung dan hujan es," ujarnya.

Hujan es, menurut Hendri, muncul akibat daya angkat di awan Cumulus nimbus lebih besar dari hari biasa. "Uap air yang terkondensasi tidak lantas jatuh, tetapi terangkat. Akibat suhu yang mencapai minus derajat Celsius, tetes-tetes air mengkristal," ujar Hendri menjelaskan.

Jadi inget cerita Laura Ingalls-Wilder, di mana tumbuhan mati semua karena es di awal musim semi ... Sedih juga ngeliat taneman bedaun lebar pada sobek-sobek daunnya...

*****
Udah, kalau Cabanas memang harganya terlalu tinggi, lepas aja. Biarin ke Kediri juga, toh ada Iurie di sana. Sebenernya Cabanasnya pengennya di PERSIB, tapi agennya malah naikin harga. Nah, apa memang pemain kalah dari agen dalam menentukan klub mana yang dia inginkan?
Nyari-nyari daftar nilai kontrak tahun lalu, di mana ya? Lupa .. Kan diumumin di koran, jadi pengen tau berapa nilai Cabanas tahun lalu.

Hujan Es

Kemarin siang sekitar jam 13.30, Ambu lagi cuci piring (lirik Herda, nggak kok, nggak balap cuci piring karena nggak ditungguin SV :P) tiba-tiba hujan. Memang udah mendung sih sebelumnya, tapi hujannya tiba-tiba deras gitu.


Trus, Abah teriak, 'hujan es! hujan es!'


Ah, hujan es sih biasa. Cuek aja beresin cuci piring.


Tapi ... setelah 15 menit, itu suara pletak-pletok di atas genting terus aja bunyi. Karena cuci piring udah selesai, jadi aja keluar.


Masya Allah, itu es terus-terusan. Diitung kali aja setengah jam. Kasian taneman yang berdaun lebat, sampai bolong-bolong gitu. Daun sirih ... sampai udara berbau sirih.


Dan ... Ambu ambil gambar sebagian. Jadi, serasa di Eropa
*lirik Jo*
*betot Herda yang masih di Ciwalk waktu itu, liatin tumpukan es di belakang rumah:






Baru sedikit. Kelihatan nggak, jatuhan-jatuhan es-nya?





Tumpukan es di pojokan. Setelah hujannya selesai, Diva dan Daffa ngambil beberapa di atas piring (mau dikasih es kali ya, dibikin es campur) dan ternyata es-es itu sudah kena cat tembok. Tembok seperti yang kena lemparan yang kuat gitu...



Di antara bebatuan...




Kontras gitu ya? Hijau dan putih...





Ini yang di depan rumah




Masih di depan rumah ..


Kemudian Abah masuk kamar mandi, dan begitu kena airnya langsung 'brrrr' Ternyata air di kamar mandi yang langsung dari keran, jadi dingiiiin sekali! Mungkin karena airnya dari torn, dan torn-nya kena hujan es selama sekitar setengah jam ya?
Dari koran hari ini:
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandung Hendri Subakti menyebutkan, fenomena hujan es ini merupakan bagian dari masa pancaroba menuju musim kemarau, yang terjadi sejak Maret. "Masa ini ditandai dengan beberapa fenomena alam yang tidak biasa atau ekstrem, seperti angin puting beliung dan hujan es," ujarnya.

Hujan es, menurut Hendri, muncul akibat daya angkat di awan Cumulus nimbus lebih besar dari hari biasa. "Uap air yang terkondensasi tidak lantas jatuh, tetapi terangkat. Akibat suhu yang mencapai minus derajat Celsius, tetes-tetes air mengkristal," ujar Hendri menjelaskan.

Jadi inget cerita Laura Ingalls-Wilder, di mana tumbuhan mati semua karena es di awal musim semi ... Sedih juga ngeliat taneman bedaun lebar pada sobek-sobek daunnya...

*****
Udah, kalau Cabanas memang harganya terlalu tinggi, lepas aja. Biarin ke Kediri juga, toh ada Iurie di sana. Sebenernya Cabanasnya pengennya di PERSIB, tapi agennya malah naikin harga. Nah, apa memang pemain kalah dari agen dalam menentukan klub mana yang dia inginkan?
Nyari-nyari daftar nilai kontrak tahun lalu, di mana ya? Lupa .. Kan diumumin di koran, jadi pengen tau berapa nilai Cabanas tahun lalu.

Hujan Es

Kemarin siang sekitar jam 13.30, Ambu lagi cuci piring (lirik Herda, nggak kok, nggak balap cuci piring karena nggak ditungguin SV :P) tiba-tiba hujan. Memang udah mendung sih sebelumnya, tapi hujannya tiba-tiba deras gitu.


Trus, Abah teriak, 'hujan es! hujan es!'


Ah, hujan es sih biasa. Cuek aja beresin cuci piring.


Tapi ... setelah 15 menit, itu suara pletak-pletok di atas genting terus aja bunyi. Karena cuci piring udah selesai, jadi aja keluar.


Masya Allah, itu es terus-terusan. Diitung kali aja setengah jam. Kasian taneman yang berdaun lebat, sampai bolong-bolong gitu. Daun sirih ... sampai udara berbau sirih.


Dan ... Ambu ambil gambar sebagian. Jadi, serasa di Eropa
*lirik Jo*
*betot Herda yang masih di Ciwalk waktu itu, liatin tumpukan es di belakang rumah:






Baru sedikit. Kelihatan nggak, jatuhan-jatuhan es-nya?





Tumpukan es di pojokan. Setelah hujannya selesai, Diva dan Daffa ngambil beberapa di atas piring (mau dikasih es kali ya, dibikin es campur) dan ternyata es-es itu sudah kena cat tembok. Tembok seperti yang kena lemparan yang kuat gitu...



Di antara bebatuan...




Kontras gitu ya? Hijau dan putih...





Ini yang di depan rumah




Masih di depan rumah ..


Kemudian Abah masuk kamar mandi, dan begitu kena airnya langsung 'brrrr' Ternyata air di kamar mandi yang langsung dari keran, jadi dingiiiin sekali! Mungkin karena airnya dari torn, dan torn-nya kena hujan es selama sekitar setengah jam ya?
Dari koran hari ini:
Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandung Hendri Subakti menyebutkan, fenomena hujan es ini merupakan bagian dari masa pancaroba menuju musim kemarau, yang terjadi sejak Maret. "Masa ini ditandai dengan beberapa fenomena alam yang tidak biasa atau ekstrem, seperti angin puting beliung dan hujan es," ujarnya.

Hujan es, menurut Hendri, muncul akibat daya angkat di awan Cumulus nimbus lebih besar dari hari biasa. "Uap air yang terkondensasi tidak lantas jatuh, tetapi terangkat. Akibat suhu yang mencapai minus derajat Celsius, tetes-tetes air mengkristal," ujar Hendri menjelaskan.

Jadi inget cerita Laura Ingalls-Wilder, di mana tumbuhan mati semua karena es di awal musim semi ... Sedih juga ngeliat taneman bedaun lebar pada sobek-sobek daunnya...

*****
Udah, kalau Cabanas memang harganya terlalu tinggi, lepas aja. Biarin ke Kediri juga, toh ada Iurie di sana. Sebenernya Cabanasnya pengennya di PERSIB, tapi agennya malah naikin harga. Nah, apa memang pemain kalah dari agen dalam menentukan klub mana yang dia inginkan?
Nyari-nyari daftar nilai kontrak tahun lalu, di mana ya? Lupa .. Kan diumumin di koran, jadi pengen tau berapa nilai Cabanas tahun lalu.

Next Page »